Thursday, August 17, 2017

Tak Cukup Untuk Menilai Orang Dari Satu Sisi





Aku melihat Mas Arya sebagai sosok yang kaku dan pendiam, bahkan meski kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal bersebelahan rumah. Tak sedikit kita pergi kuliah bersama, sebab tetanggaku ini memang sedikit pendiam dan lebih suka berangkat dan pulang saja pakai sepeda ontelnya yang sudah tua. Rilek jika dipikir-pikir, kenapa sih tak berangkat denganku saja naik sepeda motorku, apalagi beberapa jadwal kuliah kita beresiko sama.
 Dibandingkan dengan jam terbangnya yang telah tinggi dan sudah semester akhir, tentunya Mas Arya seharusnya memiliki teman yang lebih banyak di kampus, bandingkan dengan aku yang baru saja masuk semester kedua.
Namun tidak, sama seperti di rumah, di kampus juga Mas Arya tidak memiliki banyak teman dan lebih sering lagi di perpustakaan.
Aku bahkan sangat jarang lihat kumpul-kumpul dengan teman lainnya, hanya satu atau dua kali saja dalam sepekan. Kehidupannya sangat bagus sekali dan tentu saja tidak sama sama sekali-bahkan aku yang bertetangga saja sangat jarang bertegur sapa.

Kaku dan Terlihat Galak

Rumah kami yang berdempetan memang pakai keluargaku dan keluarga Mas Arya sudah sangat dekat, bahkan seperti saudara saja.
Orangtuanya ramah dan bahkan selalu datang ke teras untuk mengobrol dengan orangtuaku, begitu juga dengan Mba Raras, kakak perempuan Mas Arya yang sedang bekerja menjadi perawat di rumah sakit.
Hanya Mas Arya seorang saja yang begitu kaku dan seperti tidak pernah bergaul dengan yang lain, jadi kesan galak sangat melekat di wajah yang sedikit tirus.
Rumah kami tidak sesuai dengan pagar atau pembatas lainnya, jadi pekarangan rumah seperti menyatu saja. Kami memiliki sebatang pohon jambu air, entah milik siapa, sebab tumbuhnya tepat di tengah-tengah pekarangan.
Seperti biasa, pohon yang begitu rajin berbuah ini tidak pernah dipanen dan dijual buahnya, sebab hanya akan dimakan saja oleh keluargaku dan juga keluarga Mas Arya. Jika buahnya banyak, ibu juga selaluungannya ke para tetangga lainnya.

Salah Menilai


Saat ini buah jambunya belum terlalu matang merata, jadi kami memang belum pernah memetiknya. Namun siang itu, 4 orang anak kecil dari geng sebelah datang dan naiknya penjat pohon jambu tersebut.
Anak-anak ini memang terkenal nakal dan sebagainya ulah di sekitar rumahku. Aku melihat dari balik tirai jendela kamarku yang galap, sebab hari memang sudah sedikit sakit.
Mereka sangat bersemangat, memetik dan jambu jambu-jambu-nya di atas pohonnya. Akuingin untuk memarahi mereka, nanti setelah semua anak itu memanjat, sebab seorang lagi masih berdiri di bawah.
Tiba-tiba saja Mas Arya datang dan menghampiri mereka, lengkap dengan wajah kakunya yang jarang senyum itu. Anak-anak itu tak menyadarinya, sampai Mas Arya berdiri di bawah pohon jambu tersebut.
Aku penasaran dan mulai mulai bagaimana nanti, karena pohon jambunya dipanjati anak-anak itu.

Tapi aku pasti harus kecewa, karena penilaian aku salah. Mas Arya tersenyum dan melambaikan mantel yang tahan beberapa lembar kantong plastik warna-warni seraya berkata, "Ayo ambil ini dan masuk jambunya ke sini. Jambunya harus dicuci dulu sebelum dimakan, dek, biar gak sakit perut. "
Aku tercengang, sebab pemuda yang kuanggap kaku dan tidak bersosialisasi ini ternyata bisa ramah juga, bahkan untuk anak-anak nakal tersebut. Aku sudah salah menilai Mas Arya selama ini.
"Tidak perlu marah. Tunjukkan yang benar, maka mereka akan belajar, "katanya beberapa hari kemudian, saat aku dan dia berangkat kuliah bersama.
Perkataannya ini telah terselesaikan, saatnya untuk memberi tahu anak anak yang nakal tidak selamanya harus dengan kekerasan.
Kisah diatas adalah kisah fiktif begitu juga dengan nama yang digunakan. Semoga kisah mengenai tetangga yang kaku ini bermanfaat.

https://www.facebook.com/Stiebum/


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas pendapat anda